JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial, Center for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes melihat di keluarga Jokowi itu hampir semua sudah berhasil. Jokowi butuh kendaraan politik untuk keluarganya.
"Mas Gibran jadi Wakil Presiden, Mas Bobby jadi Gubernur Sumatera Utara, tinggal Kaesang yang belum, baru sebagai ketua umum PSI, tapi belum ada jabatan formal di pemerintahan," kata Arya.
"Jadi kendaraan politik untuk keluarga Pak Jokowi?," tanya Frisca Clarissa.
"Saya kira iya, dan itu mungkin memang itu akan dilakukan, karena bagaimanapun keluarga Solo butuh infrastruktur politik yang jelas," ungkap Arya.
Lebih lanjut Arya mengatakan harus ada pembenahan dan demokratisasi di internal PSI, jika ingin jadi partai besar.
Yang kedua adalah segmentasi. Selama ini segmen PSI itu berada di perkotaan. Makanya dalam dua kali pemilu suara PSI itu kuat di Jakarta, di kota Bandung, di kota Surabaya, mungkin di kota Medan, di Tangerang Selatan.
Tapi di daerah-daerah suburban lainnya atau di daerah-daerah rural, itu justru suara PSI-nya tidak besar. Maka perlu ada strategi lain, karena nama besar Jokowi terbukti tidak cukup untuk memasukkan PSI ke parlemen.
Dan mungkin transfer pemain dari partai-partai lain mungkin akan dilakukan. Partai baru biasa menarik politisi-politisi senior dari daerah lain yang sudah punya basis massa menjadi pimpinan partai atau dicalonkan menjadi anggota legislatif.
Ketiga, melakukan perombakan struktur di daerah. Selama ini struktur PSI di level provinsi dan di daerah itu sangat ramping sekali.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/ceNm8PdnPUw
#jokowi #gibran #prabowo
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/607501/pengamat-jokowi-butuh-kendaraan-politik-keluarganya-rosi